Sambutan

Sambutan Ketua Umum BERSAMA

Mayjen Pol. (P) Drs. IGM PUTERA ASTAMAN

Sejatinya NARKOBA merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. NARKOBA telah menjadi musuh bangsa sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, dan kini NARKOBA telah menjadi musuh bangsa, namun kualitas dan kuantitas ancamannya tidak serta merta demikian hebat dan membahayakan tetapi dia berkembang dari tahun ke tahun seperti wabah atau penyakit menular yang semakin sulit untuk dibendung sehingga fakta-fakta lapangan menunjukkan bahwa NARKOBA telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan masa depan bangsa, khususnya yang menyangkut generasi muda kita.

Hasil survey BNN (Badan Narkotika Nasional) bekerja sama dengan Pusat Penelitian Universitas Indonesia menunjukkan data bahwa 2 dari 100 orang pelajar dan mahasiswa menyalahgunakan NARKOBA.

Selain itu fakta lapangan juga menunjukkan bahwa di kalangan pelajar NARKOBA bukan saja telah merambah pelajar tingkat SD, SMP dan SMU, tetapi juga telah merambah di tingkat Taman Kanak-Kanak (PAUD).

Data BNN pun menyatakan bahwa tidak kurang 15.000 orang generasi muda bangsa meninggal setiap tahun akibat mengkonsumsi NARKOBA, berarti 41 orang per hari. Angka yang sebenarnya pasti jauh lebih besar karena masalah NARKOBA ibarat gunung es, yang terlihat di atas permukaan berbeda jauh dengan yang di bawah permukaan.

Masalah NARKOBA telah menjadi beban yang amat berat bagi bangsa kita, karena kita telah menghabiskan dana berpuluh triliun untuk upaya penindakan, pencegahan dan rehabilitasi sosial setiap tahunnya. Selain itu kualitas sumber daya manusia (SDM) kita terutama generasi muda juga merosot tajam sehingga daya saing kita sebagai bangsa makin melemah dan kita cenderung berpotensi menjadi bangsa tertinggal.

Kenyataan yang lebih memprihatinkan lagi adalah fakta bahwa Indonesia telah menjadi pasar NARKOBA terbesar di Asia, padahal kalau kita membanding pada situasi sekitar 20 tahun yang lalu Indonesia baru sampai pada predikat negara tempat transit NARKOBA yang dikirim antar negara.

Dengan keprihatinan dan dari berbagai masukan lainnya, maka sejak 2015 Bapak Presiden RI, Joko Widodo telah menyatakan secara terbuka bahwa “Indonesia Darurat NARKOBA” dan Bangsa Indonesia menyatakan “Perang Terhadap NARKOBA”.

Organisasi BERSAMA (Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama) yang lahir dan diresmikan pada 26 Juni 1978 merupakan perwujudan kesadaran masyarakat akan perlunya partisipasi sosial dalam rangka meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap ancaman bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA/MADAT /NARKOBA).

Sejak kelahirannya, Organisasi BERSAMA telah menjalankan fungsinya dengan memayungi, mengkoordinasikan dan atau bermitra dengan seluruh potensi sosial, yaitu Organisasi-Organisasi Kemasyarakatan mitra Pemerintah (OKMP) yang bergerak atau mempunyai program dalam bidang penanggulangan penyalahgunaan NARKOBA.

Dalam upaya Pencegahan, Pemberantasan Peredaran dan Perdagangan Gelap NARKOBA (P4GN) Organisasi BERSAMA beserta para mitranya berperan serta membantu Pemerintah terutama di bidang pencegahan (demand reduction), sedangkan di bidang pemberantasan (supply reduction), Organisasi BERSAMA beserta para mitranya membantu Pemerintah dalam bentuk menjalin komunikasi dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan.

Organisasi BERSAMA merupakan salah satu Organisasi Mitra Pemerintah (NGO), pendiri Federasi Lembaga Swadaya Masyarakat Internasional Anti Narkoba (IFNGO – International Federation of Non Government Organizations for the Prevention of Drugs and Substance Abuse).

IFNGO dicetuskan dalam workshop di Jakarta tahun 1979, dibicarakan kembali pada konferensi di Manila tahun 1980 dan diresmikan berdirinya di Kuala Lumpur tahun 1981. Selain sebagai organisasi pendiri, Organisasi BERSAMA merupakan salah satu anggota terpandang diantara 40 negara anggota IFNGO yang ada sampai dengan sekarang. []